Kliping: Menag Lega Tak Ada Penye-rangan Ahmadiyah


Menag Lega Tak Ada Penyerangan Ahmadiyah
(04 Oct 2008, 6 x , Komentar)

http://cetak.fajar.co.id/news.php?newsid=76586

JAKARTA – Menteri Agama Maftuh Basyuni mengaku lega karena tidak ada penyerangan terhadap penganut Ahmadiyah yang merayakan Idulfitri pada 1 Oktober lalu. Menurutnya, masyarakat mulai memahami berbeda kepercayaan tidak harus disertai penyerangan fisik. “Memang kita harapkan tidak ada penyerangan. Ahmadiyah tetap boleh melaksanakan ibadah dan kegiatan sosial seperti yang lain. Bedanya, mereka tidak boleh menyiarkan pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi,” katanya di Jakarta, Selasa, 1 Oktober.

Selasa lalu, jemaah Ahmadiyah Indonesia melaksanakan salat Idulfitri di delapan wilayah, di antaranya di Mataram, Garut, Kuningan, dan Bogor. Meski tidak ada penyerangan, 150-an warga Ahmadiyah Indonesia di Nusa Tenggara Barat terpaksa melaksanakan salat Idulfitri di Asrama Transito Mataram.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang keras Jemaat Ahmadiyah Indonesia melakukan salat Idulfitri 1429 H. Pasalnya, ajaran JAI tidak sama dengan ajaran Islam, sehingga JAI tidak boleh melaksanakan salat Idulfitri seperti yang dilakukan umat Islam.

“Pelarangan JAI melaksanakan salat Idulfitri didasarkan pada isi Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri. Salah satu poinnya menjelaskan, orang atau kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam dilarang untuk melakukan ibadah sesuai dengan Islam,” ujar Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Pusat, Muhyidin.

“Orang atau kelompok yang berhak melaksanakan salat Idulfitri hanya yang percaya dengan kebesaran Allah SWT dan Muhammad SAW,” ujar Muhyidin.

Karena tidak mengakui Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, JAI tidak boleh melaksanakan salat Idulfitri karena JAI merupakan salah satu aliran yang berada di luar jalur Islam dengan mengakui adanya nabi lain sesudah Nabi Muhammad SAW.

Menurut Maftuh, tidak ada larangan bagi jemaah Ahmadiyah untuk melaksanakan kegiatan ibadah. Bedanya, jemaah Ahmadiyah tidak boleh menegaskan pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan menyiarkan ajarannya. “Itu kalau mereka mengaku sebagai orang Islam. Kalau mereka bukan orang Islam sih nggak apa-apa. Tapi keluar dulu dong dari Islam,” tukasnya.

Maftuh menilai, SKB tentang Ahmadiyah efektif mengurangi tensi kekerasan pada pengikut ajaran Ahmadiyah. “Jadi, kalau masih ada yang menyerang secara fisik, kita gebuk saja ramai-ramai,” tukasnya. (noe).

  1. memang, ketika pernyataan itu dibuat MenAg (1/10) [dan ketika berita ini dimuat (4/10)] memang –secara umum– tidak terjadi tindak anarkis terhadap JAI. Namun empat hari sesudahnya, (5/10) satu masjid yang dikelola JAI (di Desa Tanjung Medan, Kecamatan Pujud, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Atau sekitar 150 Km dari Kota Bagan Siapi-api) telah diratakan dengan tanah. Sekarang tindakan apa yang akan dilakukan pemerintah, khususnya Menteri Agama?

    Kita tunggu action mereka….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: