Ketetapan Mengawali dan Mengakhiri Puasa


A. PENTINGNYA PERHITUNGAN YANG JELAS DALAM MENGAWALI PUASA.

Ramadhan berawal pada hari Syak (Ragu-ragu) adalah terlarang, yakni seseorang merasa ragu-ragu pada tanggal akhir bulan Sya’ban, jangan-jangan Ramadhan barangkali sudah dimulai, maka ia mulai berpuasa, maka puasanya tidak jaiz[1], seperti yang diterangkan oleh hadits berikut ini :

– ‘an abî ishâqo, ‘an shilatab-ni Zufaro qôla: kunnâ ‘inda ‘ammârib-ni yâsarin fa-atâ bisyâtin mashliyyatin faqôla: kulû fatahhâ ba’dhul-qowmi faqôla: innî shô-imun, faqôla ‘ammârun: man shômal-yawmal-ladzî syukkâ fîhi faqod ‘ashô abal-Qoshîm(i)-

Artinya: Dari Abu Ishaq dari Shilah bin Zufar dimana ia berkata: “Sewaktu kami berada di rumah ‘Ammar bin Yasir kemudian ia menghidangkan sate kambing dan berkata: “Makanlah kamu sekalian”. Sebahagian orang berpaling dan berkata: “Saya sedang berpuasa”. ‘Ammar lantas berkata: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum), maka ia telah mendurhakai Abul Qasim (Nabi Muhammad saw.)”.[2]

B. BATAS AWAL RAMADHAN

Berdasarkan sabda Rasulullah saw.:

– Lâ tashûmu qobla Romadhôna, shûmû lir-yatihi wafthirû liru-yatihi fa-in hâlat dûnahû ghoyâyatun fa-akmilû tsalâtsîna yawman –

“Janganlah kamu berpuasa sebelum Ramadhan. Berpuasalah kamu karena melihat bulan dan berbukalah karena kamu melihatnya. Apabila suasana sedang mendung, maka sempurnakanlah tigapuluh hari.”[3]

– ‘an Ikrimata ‘anibni ‘Abbâsin, qôla: jâ-a a’robiyyun ilan-nabiyyi shollallohu ‘alayhi wa sallam, faqôla: Innî ro-aytul-hilâla, faqôla, atasyhadû al-lâ-ilâha illalloh? Atasyhadu anna Muhammadar-Rosûlalloh? Qôla: Na’am, qôla: Yâ Bilâl(u). Adzdzin fin-nâsi ay-yashûmû –

Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a dia berkata: pernah seorang Arab dusun datang kepada Rasulullah s.a.w, berkata: “Sesungguhnya saya melihat hilal Ramadhan “, maka Beliau bertanya: “Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” jawabnya: “ya”. Tanya beliau: “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad pesuruh Allah?” jawabnya: “ya”. Beliau bersabda: “Wahai Bilal! Umumkan kepada orang-orang agar mereka berpuasa besok.”[4]

C. PANDANGAN PARA IMAM MADZHAB  TENTANG RU’YATUL HILAL BERDASARKAN PERBEDAAN DAERAH

a. Menurut Hanafi, Maliki dan Hambali

Bila hilal telah nampak pada suatu daerah, maka seluruh penduduk berbagai daerah wajib berpuasa, tanpa membedakan jauh dan dekat, dan tidak perlu lagi beranggapan adanya perbedaan munculnya hilal.[5]

b. Menurut Madzhab Imamiyah dan Syafi’iyah

Kalau penduduk suatu daerah melihat hilal, dan penduduk daerah lain tidak melihatnya, bila dua daerah tersebut berdekatan, maka hukumnya satu. Tetapi kalau munculnya berbeda, maka setiap daerah mempunyai hukum khusus.[6]

Bahwa apabila langit cerah, maka perkara puasa bergantung pada ru’yat al-hilal (terlihatnya hilal). karena tidak dibolehkan berpuasa kecuali apabila hilal Ramadhan telah terlihat. Sedang apabila berawan maka hendaklah dikembalikan pada bulan sya’ban.[7]

Bermulanya ialah apabila bulan sabit (Hilal) bulan Ramadhan tampak dan jika langit berawan, maka genapnya tiga puluh hari bulan Sya’ban menandai permulaan Ramadhan. [8]

Berikut ini adalah keterangan dari hadits mengenai hal diatas; Rasulullah bersabda:

– ‘an abî Huroyrota qôla: qôla Rosûlallohu shollollohu ‘alayhi wa sallam: Ahshû hilâla Sya’bâna –

Artinya:Dari abu Hurairah, dimana ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Hitung-hitunglah bulan Sya’ban untuk Ramadhan.[9]

Rasulullah saw. bersabda:

– ‘anibni ‘Umaro rodhiyallohu ‘anhumâ ‘anin-nabiyyi shollollohu ‘alayhi wasallama annahû qôla: anâ ummatun ummiyyatun lâ naktubu wa lâ nahsibusy-syahru hakadzâ wa hakadzâ. Ya’nî marrotan tis’atan wa ‘aisyrîna wa marotan tsalatsîn(a) –

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. bahwasannya beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu adalah ummat yang ummi tidak dapat menulis dan menghitung bulan demikian, demikian yakni sekali waktu dua puluh sembilan hari dan sekali waktu tiga puluh hari.”

Al-Allaamah Ahmad Syaakir r.a berpendapat bahwa penyaksian (ru’yat) dengan mata kepala, memang menjadi satu-satu penentu dimasa lalu, ketika mayoritas umat masih dalam keadaan ummiy.[10]

Akan tetapi kini, setelah umat Islam terbebas dari keummiyannya dan tidak sedikit diantara mereka yang menguasai ilmu-ilmu modern. Diantaranya ilmu astronomi, fisika dan sebagainya. Disamping telah ditemukannya pelbagai peralatan canggih yang memungkinkan mereka bersama-sama bangsa lain mampu menghitung perjalanan matahari,bulan dan bintang-bintang dengan kecermatan yang luar biasa. Sehingga kemungkinan salahnya adalah berbanding seratus ribu perdetik ; maka tidak ada halangan  lagi bagi mereka untuk menggunakan hisab berkaitan denga awal bulan Ramadhan, syawal dan bulan-bulan lainnya.[11]

Berdasarkan keterangan diatas jelas bahwa hilal sangat mudah untuk diketahui dengan menggunakan alat-alat modern. Oleh karena itu, dalam menentukan hilal sangat kecil sekali kemungkinan untuk meleset. Jika ada yang menggunakan alat canggih untuk melihat hilal sehingga ia memastikan hilal telah muncul, mengapa kita masih meragukannya? Apakah terus ragu-ragu? Untuk apa alat-alat canggih ada? Untuk apa kita mempunyai ilmu tetapi tidak diamalkan? Bukankah ilmu tanpa amal bagaikan pohon  tanpa buah.

Bukankah mengandalkan rukyat itu merupakan suatu hal yang dilakukan pada zaman belum ditemukan alat-alat modern?

D. MENETAPKAN BULAN SYAWAL

Setelah membahas tentang batas awal bulan Ramadhan, berikut ini membahas tentang batas akhir bulan Ramadhan, yaitu dengan mengetahui awal dari bulan Syawal.

Bila hilal Syawal belum kelihatan, maka amadhan itu wajib digenapkan menjadi tiga puluh hari. Bila telah genap tiga puluh hari, sementara hilal Syawal belum juga kelihatan, maka dalam hal ini boleh jadi langit malam dalam keadaan cerah atau tidak.

Jika langit sedang cerah, maka tidak boleh berbuka pada pagi harinya, melainkan wajib berpuasa pada hari berikutnya, dengan membatalkan kesaksian Ramadhan.

Sedang, apabila langit tidak cerah, maka wajib berbuka pada pagi harinya, dan hari itu dianggap telah masuk bulan Syawal.[12]

Jika hilal bulan Syawal tertutup mendung harus menyempurnakan puasa Ramadhan sebanyak 30 hari dan jika ada kemungkinan untuk melihatnya maka dia tidak boleh puasa sampai hilal itu benar-benar terlihat dan nampak dilangit.[13]

a. Penyebab Dijadikannya Bulan Sebagai Patokan Perhitungan Waktu

Kalau bulan nampak di langit dan orang melihat bulan itu, maka akan timbullah padanya ingatan, bahwa sekarang adalah bulan baru, bulan yang lalu telah lewat. Oleh sebab itulah, maka Allah SWT telah memilih bulan di langit itu untuk dijadikan ukuran dalam menetapkan waktu bagi tiap-tiap orang.

Pendek kata semua orang dapat mengetahui waktu dengan perantaraan bulan di langit. Beda sekali keadaan matahari. Matahari tidak bisa membesar atau mengecil, tidak bisa pula dipakai orang untuk menjadi ukuran.

b. Alasan Tidak Dijadikannya Matahari Sebagai Patokan Perhitungan Waktu

Perjalanan matahari tetap. Tetapi perjalanan bulan bertukar-tukar. Misalnya: kalau didalam bulan ini hari raya puasa akan tiba pada tanggal 10 Maret, maka pada tahun yang lain, hari raya itu akan datang kira-kira 10 hari lebih dahulu dari 10 Maret dan demikianlah seterusnya.

Tetapi kalau kita mengikut kepada perhitungan (ukuran) matahari, tentu tidak bisa bertukar-tukar, karena kalau umpamanya tahun ini kita berpuasa dalam bulan Januari, maka tahun depanpun akan terjadi dalam bulan Januari. Di dalam tempo 50 tahun, paling banyak hanya ada perbedaan 4 atau 5 hari.

c. Hikmat Bulan Dijadikan Ukuran Waktu

Kalau Allah SWT mengadakan perhitungan menurut perhitungan matahari, maka hari puasa itu tetap saja, tetapi dengan jalan mengadakan perhitungan dengan bulan, maka hari puasa berubah-ubah. Ada kalanya nanti berpuasa dimusim dingin.

Keadaan musim ini sangat besar gunanya, terutama di luar tanah Indonesia ini. Misalnya untuk umat Islam yang berada di benua barat atau di benua selatan, dimana musim dingin dan musim panas sangat hebat.

Catatan kaki

[1].  Hazrat Hafiz Roshan Ali, diterjemahkan: R. Ahmad Anwar, FIQIH AHMADIYAH, Bogor:Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hlm. 92-93

[2]. Moh. Zuhri Dipl. TAFL, Drs. H., dkk, TARJAMAH SUNAN AT-TIRMIDZI II, Semarang: CVAssyifa, 1992, hlm.6, Bab Tentang Larangan Puasa Hari Syakk, Hadits No.681

[3] ibid, hlm. 8 Bab yang menerangkan bahwa berpuasa itu karena melihat bulan dan berbuka juga karena melihat bulan.

[4] Ibid, hlm. 10-11, Bab Puasa dengan Persaksian

[5] Muhammad Jawad Mughnoyah, FIQIH LIMA MAZHAB, cet vii, Jakarta: PT Lentera Basritama, 2001, hlm.170

[6] ibid

[7]. Muhammad Bagir Al-Habsyi, FIQIH PRAKTIS, cet III, Bandung: Mizan, 2001, hlm.343

[8]. Hazrat Hafiz Roshan Ali, diterjemahkan: R. Ahmad Anwar, FIQIH AHMADIYAH, Bogor:Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hlm.92-93

[9]. Moh. Zuhri Dipl. TAFL, Drs. H., dkk, TARJAMAH SUNAN AT-TIRMIDZI II, Semarang: CVAssyifa, 1992, hlm. 7, Bab tentang menghitung-hitung bulan Sya’ban untuk Ramadhan.

[10] Ahmad Sunarto, dkk, TARJAMAH SHAHIH BUKHARI III, Semarang: CVAssyifa, 1993, hlm. 99, Bab Sabda Nabi saw.:“Kami Tidak Dapat Menulis dan Menghitung Bulan”

[11] Muhammad Bagir Al-Habsyi, FIQIH PRAKTIS, cet III, Bandung: Mizan, 2001, hlm.344

[12].  Abdur Rahmad Al Jaziri, FIQIH EMPAT MADZHAB IV, cet I, Jakarta:Darul ‘Ulum Press, 1996, hlm. 16, 24

[13].  Muhammad Rawwas Qal’ahji, ENSIKLOPEDI FIQIH UMAR BIN KHOROB RA, cet I, Jakarta: PT RajaGrafindi Persada, 1999, hlm.553

  1. Mntap…. tulisannya bermamfaat sekali …

    • Deka
    • September 8th, 2008

    ok dech….mantap

    • isa
    • September 9th, 2008

    Jazakumullah ahsanal jaza, semoga bisa bermanfaat. terimakasih.

  2. Alhamdulillah terima kasih bos… sangat bermanfaat nih

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: