Hal-Hal yang Tidak Membatalkan Puasa


Beberapa Hal yang tidak membatalkan Puasa yaitu:

A. MENCIUM ISTRI/SUAMI.

Mencium tidak membatalkan puasa, namun ini dengan syarat bahwa ciuman itu tidak mengandung nafsu birahi. Apabila ciuman dilakukan dengan menyertakan nafsu, maka hal itu bisa menghilangkan pahala puasa kita. Karena salah satu fungsi puasa adalah untuk mengekang hawa nafsu.

Jadi apabila kita merasa bahwa ciuman yang akan dilakukan dapat menimbulkan nafsu maka hendaklah ditahan. Akan tetapi apabila sekedar mencium anak sendiri, atau ciuman kasih sayang terhadap istri, itu dibolehkan. Hal ini dijelaskan oleh Hz. ‘Aisyah, yaitu:

Dari ‘Aisyah ra. Berkata: Sesungguhnya Rosulullah saw. Pernah menciumku, padahal beliau tengah berpuasa. Tetapi siapakah diantara kalian yang mampu membendung nafsu seksualnya seperti Rasulullah saw. (HR. Muslim) [1]

Konteks hadits ini tertuju kepada Rosulullah saw. Yang mana beliau adalah manusia yang paling kuat dalam menahan hawa nafsu atau kepada ciuman kasih sayang yang tidak menimbulkan syahwat, seperti mencium anak sendiri. Hal ini dijelaskan oleh hadits berikut:

B. BERSINGGUNGAN KULIT.

Hal ini tidak membatalkan puasa berdasarkan hadits berikut ini :

Dari Aisyah ra dimana ia berkata: “Rasulullah saw itu sering berssinggungan kulit dengan saya sedangkan beliau berpuasa; akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan nafsunya diantara kamu sekalian”. (HR. Tirmidzi) [2]

Mengenai masalah bersinggungan kulit itu hukumnya disamakan dengan mencium, karena sama-sama menggunakan kata yang sama yaitu: “Mubasyaroh”.

Jadi selama bersinggungan kulit itu tidak disengaja, atau terpaksa, dan terjadi tanpa disertai nafsu syahwat, maka hal itu tidak apa-apa. Namun alangkah baiknya kita menghindarinya, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan nafsu syahwat.

C. MASIH DALAM KEADAAN JUNUB KETIKA FAJAR TIBA

Seseorang yang junub sebelum fajar tiba namun ketika fajar tiba ia masih dalam keadaan junub, maka ia boleh terus berpuasa, ini berdasarkan hadits berikut:

Dari Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam dimana ia berkata: “Aisyah ra dan Ummu Salamah yang keduanya adalah istri Rasulullah saw memberitahukan kepada saya bahwasannya Nabi saw masuk waktu fajar sedangkan beliau dalam keadaan junub karena (bergaul dengan) istrinya kemudian beliau mandi dan berpuasa” (HR. Tirmidzi). [3]

D. MUNTAH TIDAK SENGAJA

Terkadang ada hal-hal tertentu yang membuat seseorang itu muntah, misalnya karena hal-hal yang menjijikan seperti bangkai, darah yang berceceran, kotoran binataang, dll. Atau apabila kita berolah raga dan sebelumnya kita bersahur cukup banyak lalu saat berolah raga kita muntah, maka hal itu dikategorikan tidak disengaja.

Namun apabila sengaja memuntahkan makanan yang telah masuk kedalam lambung, baik dengan jari atau benda lain, maka hal itu dikategorikan muntah dengan disengaja, dan konsekwensinya harus mengqadhanya.

Lain halnya apabila muntah karena sakit, maka hal itu dikategorikan sedang sakit. Oleh karena itu hendaknya tidak berpuasa pada hari itu dan mengqadhanya di lain hari.

Mengenai hal ini, Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa terpaksa muntah, tidak wajib mengqadha’ puasanya; dan barangsiap yang mengusahakan muntah, maka hendaklah ia mengqadha puasanya”. (HR. Tirmidzi)

E. MAKAN DAN MINUM KARENA LUPA

Seseorang yang makan dan minum pada siang  hari karena lupa, tidaak membatalkan puasa, dengan dasar:

Dari Abu Hurairah ra. dimana ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang makan dan minum karena lupa maka janganlah ia berbuka, karena sesungguhnya itu adalah rizki yang dikaruniakan oleh Allah” (HR. Tirmidzi).

F. MENYIKAT GIGI

Orang yang sedang menjalani puasa, boleh tetap menyikat giginya, karena hal ini tidak membatalkan puasa, hal ini berdasar pada hadits:

Dari Abdullah bin Amir bin Rabia’ah dari ayahnya dimana ia berkata: “Saya melihat Nabi saw bersikat gigi (bersiwak) dengan tidak bisa saya hitung padahal beliau sedang berpuasa”. (HR. Tirmidzi)

G. BERCELAK MATA

Hal ini juga tidak membatalkan puasa atas dasar teks hadits berikut: Dari Anas bin Malik dimana ia berkata: “Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw seraya berkata: “Kedua mata saya terasa sakit, maka apakah saya boleh bercelak mata sedangkan saya sedang berpuasa?” Beliau saw menjawab: “Ya” (HR. Tirmidzi)

Catatan Kaki:
[1] Adib Bisri Mustofa, TARJAMAH SHAHIH MUSLIM II, Semarang: CVAssyifa, 1993, hlm. (?), Bab XII (?) No. Hadits. 64

[2] Moh. Zuhri Dipl. TAFL, Drs. H., dkk, TARJAMAH SUNAN AT-TIRMIDZI II, Semarang: CV As Syifa, 1992 hlm.(?), Bab (?)

[3] ibid

  1. terapi otak

  2. bagaimana jika kita berpuasa tapi berciuman dgn pacar kita? batal pa g?

    (1) Berciuman memang tidak membatalkan puasa,
    (2) Dalam Alquran difirmankan: “laa taqrobuz-zinaa” –janganlah kalian mendekati zina– nah… berciuman itu ada dalam kategori mendekati zina (bagi yang dilakukan bukan muhrim). Pacar kan bukan muhrim… Jadi baik puasa/tidak puasa, hal ini tidak dibenarkan menurut ajaran Islam.
    (3) Intinya memang berciuman itu tidak membatalkan puasa, namun hal ini hanya lazim bagi suami-istri saja.

    • dwi
    • Agustus 4th, 2009

    kalau waktu kita puasa boleh kumur waktu wudhu nggak??
    dasar hukumnya ada nggak ya??

    • Hamba Allah
    • Oktober 14th, 2010

    Kalo kta terangsang
    ketika puasa namun tidak keluar mani apakah it membatalkan puasa atau hanya mengurangi pahala?

    • Hanya berkurang pahalanya. Tapi jangan sampai pahala puada kita habis karena hal seperti itu.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: