Masjid di Parakansalak Dibakar


(Masjid Al Furqon yang dirusak dan dibakar massa. Foto: Isa)

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Senin (28/4) dini hari, kembali terjadi tindakan anarkis terhadap Jamaah Muslim Ahmadiyah dalam bentuk penghancuran dan pembakaran masjid oleh sekelompok massa yang mengklaim dirinya umat Islam.

Aksi ini dipicu Istighosah di Masjid At-Taqwa tak jauh dari lokasi masjid Jeamaat Ahmadiyah. Dalam istighosah yang dilaksanakan hari Jumat (25/4) itu mengusung tema: “Melalui Istighosah, kita perkuat ukhuwah Islamiyah untuk mengembalikan Jemaat Ahmadiyah kepada aqidah yang benar”.
Akhirnya buah dari pertemuan keagamaan yang dilaksanakan itu, dibuatlah surat himbauan yang menuntut agar:

  1. Mengajak [Jemaat Ahmadiyah] untuk kembali kepada ajaran Islam
  2. Menghentikan segala aktivitas ibadah di tempat ibadah Jemaat Ahmadiyah Indonesia (dengan melakukan penutupan sarana ibadah)
  3. Melakukan taubat terbuka di hadapan alim ulama di wilayah Parakansalak
  4. Sebagai bukti taubat atau kembali kepada ajaran Islam dan penghentian aktivitas di tempat ibadah Jemaat Ahmadiyah Indonesia maka dalam melaksanakan Ibadah berbaur kembali dengan umat Islam di parakansalak (tidak melakukan ibadah tersendiri)
  5. Menurunkan setiap papan nama yang berlabel Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Dan dalam paragraf penutup, dengan bahasa yang intimidatif dan terkesan cuci tangan, tertulis: “apabila dalam kurun waktu dua hari tidak mengindahkan himbauan ini, maka kami tidak bertanggungjawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

Surat tersebut tampak tidak ada yang menandatangani, namun di belakang surat itu, dilampirkan sebanyak 46 tanda tangan layaknya SKB. Para penandatangan surat itu antara lain mereka yang mengatas namakan: Ketua Forum Komunikasi Jami’atul Mubalighin (FKJM) Cidahu dan Cicurug, Ketua MUI, para pimpinan dan pengurus pondok pesantren, guru madrasah, pengurus majlis ta’lim, alim ulama dan masyarakat dll.

Selanjutnya, mereka mengamanatkan surat tersebut kepada Muspika untuk diserahkan kepada pemimpin Ahmadiyah di Parakansalak. Surat himbauan tersebut akhirnya diterima oleh Asep Saefudin, Ketua Jemaat Parakansalak. Ia segera merespon bersama para pengurusnya. Setelah itu, dijawablah surat himbauan tersebut dan diserahkan kepada camat setempat. Namun, berdasarkan info dari Ketua Jemaat Parakansalak, dengan dalih jawaban dari Jemaat Ahmadiyah itu tidak mengena, maka sang Camat tidak menyerahkan surat jawaban itu kepada kelompok “umat Islam se-wilayah tiga Cicurug” itu. Akibatnya, Ahad (27/4) malam itu pun menjadi mencekam. Mulai pukul 21.00 WIB, sedikit-demi sedikit, massa mulai berkumpul di sekitar masjid Alfurqon milik Jemaat Ahmadiyah Parakansalak.

Mengetahui akan hal itu, para pemuda Ahmadiyah dikerahkan untuk menjaga masjid. Malam semakin larut, pekikan kata “Allahu-Akbar” semakin jelas dan semakin mendekat. Sekelompok Ahmadi yang berjumlah 30 orang, ketika itu hanya ditemani enam personil polisi. Menurut pengakuan dari mubalig Ahmadiyah setempat, Kashmir Mubarak, sebenarnya para ahmadi itu benar-benar ingin mempertahankan masjid. Namun karena ada ancaman bahwa jika mereka tetap mempertahankan masjid, maka massa akan pindah sasaran untuk melakukan perusakan ke rumah-rumah anggota Jemaat Ahmadiyah di sekitar masjid. Selain itu sekitar 500 orang yang datang dan membawa alat-alat pemukul dan benda-benda tajam terlalu sulit untuk dibendung. Dan pihak kepolisian pun berhasil mengevakuasi para Ahmadi itu dengan alasan agar tidak terjadi bentrok fisik. Oleh karena itu, tepat pukul 00.05 WIB, dengan leluasa, massa mulai membakar masjid dan merusak madrasah serta rumah dinas (rumah missi) milik Jemaat yang beranggotakan 212 Ahmadi itu. Akibatnya masjid yang berukuran 12 x 12 m itu hancur luluh, madrasah tiga kelas itu juga rusak berantakan, bangku dan kursi satu kelas raib entah kemana, kaca-kaca dan pintu pecah berkeping-keping, rumah missi yang berdempetan dengan madrasahpun tak luput dari serangan.
“Kerugian ditaksir mencapai 450 juta rupiah dan itu telah saya laporkan ke PB,” ungkap Asep Saifuddin ketika diwawancarai.

(Madrasah milik Jemaat Ahmadiyah yang dirusak massa. foto: Isa)

Dikutip dari Sinarharapan.co.id, Iwan Edi Irawan ketika itu menyaksikan sendiri ratusan Al Quran yang disimpan dalam masjid tersebut, dibakar. Salah seorang Ahmadi di desa sebelah menggeleng-gelengkan mendengar kabar itu.

Salah satu dampak sosialnya, menurut penuturan dari Dendi Ahmad Daud, Iwan Edi Irawan tak lama paska kejadian itu, ia diberhentikan sebagai seorang guru dari SMP Yasidik Prakansalak, Sukabumi, hanya lantaran ia seorang Ahmadi.

“Sebenarnya mereka juga mau membakar madrasah, namun saya berteriak-teriak,” ujar salah seorang wanita non-ahmadi yang rumahnya berdempetan dengan madrasah itu. “habis itu mereka tidak jadi membakar madrasah.”

Ketika diwawancara, Asep Saefudin, ketua Jemaat Parakansalak menyayangkan lambatnya respon dari kepolisian. “Setelah ada perusakan masjid terjadi, barulah ada penambahan personil polisi,” ungkapnya.
Ketika diwawancarai, kapolsek Parakansalak, mengungkapkan, “kami kecolongan, kami akan melakukan antisipasi agar kejadian seperti ini tidak terjadi kembali dan akan mengusut para pelaku pengrusakan.”
“Setelah masjid parakansalak terbakar, sebagian massa datang ke masjid milik Jemaat Ahmadiyah Lebaksari.” Ungkap Lahuddin, seorang Ahmadi asal Lebaksari, desa yang tak jauh dari parakansalak.
“Tapi massa yang diperkirakan senabyak 50 orang itu terlihat kebingungan ketika berada di depan masjid Lebaksari. Dan alhamdulillah, mereka kembali pulang tanpa merusak masjid itu.” Ungkap ahmadi satu putri ini.

Hingga kini, dari delapan orang, lima diantaranya dinyatakan sebagai tersangka. Namun karena ada jaminan dari Muspika dan Ulama-ulama setempat, termasuk MUI maka kepolisian tidak menahan mereka. []

  1. Sesuai dengan hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah kitab suci-Nya, umat Islam dilarang merobohkan, membakar dan lain sebagainya tempat-tempat ibadah agama-agama dimana didalamnya banyak disebut nama Allah sesuai Al Hajj (22) ayat 34,40. Nauzubillah min zalik !

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    • Anwar Saleh Mutaqi
    • Agustus 27th, 2008

    Assalamu’alaikum,
    Saya kira ini ‘peluang’ yang baik untuk membuktikan siapa diantara mereka, yakni: Masyarakat, JAI dan Aparat Keamanan yang melanggar SKB. Dan selanjutnya apakah para pihak siap membangun keadilan secara seimbang? artinya siapa yang salah harus mendapat hukuman yang sesuai konstitusi NKRI.
    Semoga negeri ini mampu membangun dirinya untuk bisa eksis sebagai NKRI secara benar sesuai landasan negara PANCASILA.
    wASALAMU’ALAIKUM.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: