Pengurus Ahmadiyah Desak Pelaku Perusakan Masjid Diproses


Desa Sadasari Masih Mencekam

SADASARI-Perusakan Masjid Al Istiqamah di Blok Rekesan Desa Sadasari, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka oleh sekelompok massa, menyisakan keprihatinan. Masjid milik jemaat Ahmadiyah berlantai dua yang dibangun pada 1989 itu kondisinya memprihatinkan. Hampir sebagian genteng dan kaca masjid rusak berat. Berdasarkan catatan, aksi massa ini merupakan yang keempat kalinya.   Untuk memberikan rasa aman kepada warga Ahmadiyah, Polres Majalengka menerjunkan puluhan petugas Satuan Pengendali Massa (Dalmas). Sementara sejumlah pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dari Cirebon dan sekitarnya mengunjungi warga Ahmadiyah di Sadasari. Mereka pun berangkulan, bahkan sejumlah kaum ibu menitikkan air mata tanda berduka.
“Kami tidak dendam. Kami serahkan semuanya kepada Allah SWT,” ujar Iyoh (65), warga Ahmadiyah kepada Radar, kemarin siang (29/1).
Dituturkan Iyoh, perusakan yang dilakukan sekelompok massa itu berlangsung sekitar pukul 12.30. Saat itu massa merusak masjid dengan melempar genteng dan kaca. Bahkan, ada dari massa yang naik ke atap dan menghancurkannya. Tak hanya itu, mereka juga berteriak-teriak dan menyebut warga Ahmadiyah murtad dan sesat. Bahkan karpet, jendela kaca dan gorden dipreteli kemudian dibakar di jalan raya. Dia mengatakan, perusakan kemarin merupakan yang keempat kalinya setelah tahun 2005. Mubalig Ahmadiyah wilayah III Cirebon, H Ahmad Sulaeman meminta agar para perusak masjid bisa diadili dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. “Maling ayam saja diproses, apalagi ini merusak masjid,” tandas Sulaeman saat mengunjungi warga Ahmadiyah di Sadasari, kemarin (29/1). Dituturkan Sulaeman, pihaknya telah membeberkan 12 butir pernyataan kepada pemerintah. Dan pemerintah sudah mengakui keberadaan Ahmadiyah.
Dia kembali menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Sebab, dari dulu pihaknya taat hukum. Adanya tudingan kalau 12 butir pernyataan JAI hanya untuk menghindari aksi anarkis dari umat Islam, Sulaeman membantahnya. Ditegaskan dia, alasan 12 butir pernyataan yang  dibuat Ahmadiyah adalah benar merupakan keyakinan warga Ahmadiyah. “Dari dulu Syahadat kami begitu. Kalau di hatinya tidak seperti itu, siapa tahu hati orang,” ujar Sulaeman.
Selanjutnya, pihaknya juga akan meminta kapolres untuk mengizinkan penggunaan masjid di lantai bawah untuk salat. Itu juga kalau itu direstui. Tapi kalau aparat keamaan meminta untuk tidak digunakan dulu karena situasi masih belum dingin, pihaknya akan menaatinya.
“Kita bisa jadikan jalan atau tanah ini untuk salat Jumat. Seperti halnya saat salat Idul Adha warga Manis Lor Kuningan yang menggelarnya di jalan raya,” imbuh Sulaeman didampingi mubalig Ahmadiyah Majalengka, Jafar Ahmad.
Di tempat terpisah, warga Blok Rekesan Utin (45) tetap ngotot agar di Sadasari tidak ada penganut ajaran Ahmadiyah. Selama ini warga Ahmadiyah tidak mau bergabung dan bergaul dengan warga Sadasari lainnya yang mayoritas dari kalangan ahlussunah waljamaah, apalagi untuk salat berjamaah.
Dia khawatir kalau terus-terusan dibiarkan, akan semakin banyak warga Sadasari dan sekitarnya yang mengikuti ajaran mereka. “Menurut kami Ahmadiyah itu sesat, sehingga mohon untuk dibubarkan saja,” pinta Utin diiyakan warga lainnya. (ara)
    • sugeng fauzi
    • Februari 26th, 2010

    siapapun dan apapun. perusakan masjid adalah satu bentuk anarkisme yang tak boleh tumbuh di negri manapun.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: