“Bukankah kami sudah jelas bersyahadat?”


Ahmadiyah Minta Pengembalian Hak

(20 Jan 2008)

JAKARTA —- Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) tak ambil pusing dengan sikap kukuh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang masih mempermasalahkan aliran tersebut dengan menyatakan sebagai aliran sesat.JAI hanya memegang keputusan pemerintah melalui Bakor Pakem Kejaksaan Agung Selasa lalu 15 Januari lalu yang menyatakan tidak melarang JAI.

“Itu (12 penjelasan pokok keyakinan JAI, Red) bukan kesepakatan itu penjelasan. Saya tidak akan bicara itu lagi. Yang jelas pemerintah sudah tidak melarang,” kata amir JAI Abdul Basith dalam jumpa pers di YLBHI, Jakarta Pusat, Sabtu 19 Januari.

12 pokok keyakinan JAI memang masih membuat sebagian kalangan tidak puas. Misalnya MUI dan Forum Umat Islam. Mereka kukuh meminta JAI untuk bertobat. “Apalagi kini. Bukankah kami sudah jelas bersyahadat?,” tambah Basith.

Dalam kesempatan itu Basith justru meminta pemerintah mengembalikan hak warga Ahmadiyah yang selama ini terampas. Misalnya hak atas harta benda, hak atas tempat tinggal, hak hidup, hak atas pendidikan anak, dan hak-hak lainnya.

“Seperti nasib warga Ahmadiyah di Mataram, Lombok, yang belum bisa pulang ke rumahnya,” sambung Basith.

Menurut Kadiv Reformasi Insitusi dan Pemantauan Impunitas Kontras Haris Azhar, pengakuan positif pemerintah atas Ahmadiyah juga harus diikuti pengakuan adanya penderitaan yang mereka alami selama ini. Sikap pemerintah itu sekaligus sebagai koreksi terhadap lemahnya penegakan hukum selama ini.

Asvinawati juga mengingatkan jika keputusan pemerintah itu harus diikuti dengan pencabutan sejumlah Surat Keputusan Bersama (SKB) yang selama ini melarang keberadaan Ahmadiyah. Salah satunya SKB wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya antara walikota, bupati, kajari, kepolisian. Aparat tidak tunduk pada MUI,” ingatnya. (naz/jpnn)

Sumber: http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=52393

  1. 1. Yang diperintahkan Allah menyampaikan Risalah Tuhan/Allah sesuai Al Maidah (5) ayat 67, Al An Aam (6) ayat 124,125, Al A’raaf (7) ayat 62,68,79,93,144, Al Ahzaab (33) ayat 38,39,40, Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28.
    2. Yang dilaksanakan oleh umatnya menyampaikan Risalah Nabi/Rasul, hingga tidak disadari mengandung didalam hati penganutnya sifat mengarbabankan/memberhalakan/menuhankan nabi/rasul sesuai Ali Imran (3) ayat 80, mengarbabankan/memberhalakan/menuhankan pemuka agama selain Allah sesuai At Taubah (9) ayat 31.
    3. Perintah Allah BERSYAHADAT TAUHID sesuai Az Zumar (39) ayat 45.
    4. Umatnya bersyahadatain.

    Untuk jelasnya kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 macam lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
    ——————————
    Moderasi:
    D dalam Q.S. Ali Imran disebutkan:
    “dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”.
    Komentar:
    Jika kita mengaku sebagai umat Islam, dan menuhankan Nabi/Rasul-Nya berarti kita sudah menyamakan antara kedudukan Tuhan dengan Utusannya. Semoga ini tidak terjadi di kalangan umat Islam. Na’udzubillah.

    syahadat:
    “Asyhadu An-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar-Rasuulullaah” merupakan Syahadat Tauhid. Ini disebabkan disana tertera TIDAK ADA TUHAN KECUALI ALLAH. Walaupun demikian, karena disana terdapat dua kesaksian, maka itu disebut juga “syahadatain”. Dua-duanya sah-sah saja. Tidak ada perbedaan. Tidak memberhalakan Rasul-Nya. Karena tanpa perantaraan Yang Mulia Rasulullah saw. ajaran Allah ta’ala tidak bisa sampai kepada umat manusia dengan sempurna.

    • mubarak ahmad sabah
    • Januari 23rd, 2008

    assalamu’alaikum
    selamat maju jaya .amin.
    ———–
    Moderasi:
    Wa ‘alaikum salaam.
    Jazakumullah atas motivasinya.
    Mohon doanya.

    • Daniel
    • Januari 25th, 2008

    Wah ternyata Ahmadiyah membuat kebohongan publik dengan mengatakan Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagi guru, padahal perbedaan keimanan orang ahmadi dengan orang muslim adalah dalam hal meng-imani MGA sebagai nabi (walaupun tidak membawa syariat, katanya). Apakah keimanan orang ahmadi sudah berubah? Atau dirubah? Atau berbohong pada publik? Terus terang saya tidak respek lagi kepada Ahmadiyah dengan kebohongan ini.
    —————-
    Moderasi:
    Sejujurnya saya mengatakan bahwa keyakinan Ahmadiyah tidak berubah. Ini hanya masalah persepsi yang berbeda mengenai definisi kata “Nabi”.
    Menurut umat Islam secara mainstream, definisi Nabi yang menonjol adalah:
    1. Membawa Syariat yang baru.
    2. Membawa Kitab suci (syariat) yang baru.
    3. Membatalkan/mengganti syariat [nabi] sebelumnya.

    Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tidak memenuhi ketiga syarat tersebut. karena:

    1. Beliau hanya meneruskan syariat Rasulullah saw.
    2. Tidak mempunyai kitab suci lagi. Beliau berpegang teguh kepada Alquran
    3. Beliau tidak membatalkan syariat [nabi] yang sebelumnya.

    Apakah jika Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad tidak dikatakan nabi itu bohong? padahal beliau tidak memenuhi ketiga syarat-syarat kenabian diatas.

    • sudaryanto
    • Januari 30th, 2008

    Jika kita telaah buku-buku Ahmadiyah umumnya menyebutkan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Hazrat Imam Mahdi atau Masih Mau’ud bersabda:……. dll, hampir tak dijumpai kata-kata Nabi Ahmad a.s. atau Rasul Ahmad a.s bersabda:……Beliau juga jelas sebagai UMAT Nabi Besar Muhammad saw karena mengucapkan SYAHADATAIN:

    ASYAHADU ANLA ILAHA ILALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.

    Jadi jelas beliau tak membawa syariat baru karena beliau hanya meneruskan dan menyebarkan misi Rasulullah Muhammad saw ke seluruh dunia agar Islam yang disebutkan Tuhan di Al Anbiyaa’ (21):107 untuk menjadi rahmatan lil ‘alamiin (yang sebelumnya belum melingkupi dunia dan baru sebagian saja)dapat terwujud di masa HMA beserta khalifahnya.Pangkat beliau hanya sebagai perwujudan pangkat rohani karena beliau begitu taatnya kepada junjungan nabi Besar kita Rasululah Muhammad saw, sampai-sampai beliau mengatakan beliau bagaikan setitik debu di bawah telapak kaki Rasululah saw.
    Ibarat yang dapat diambil adalah jika seorang presiden meninggal sebelum masa jabatannya habis, maka dia apa harus diganti dengan orang yang pangkatnya cuma kepala kantor?. Bisa saja pangkatnya sama namun nama, bentuk negaranya kan masih tetap, UUD dan dasar falsafahnya juga tetap….Tidak harus ganti kan?
    Seorang sopir bis meninggal sebelum sampai ke tujuan, jenazah sopir tak akan dapat mengendarai lagi bisnya dan jika ada jurang atau ada yang mau menabrak pasti tak akan dapat menghindar akhirnya bis akan jatuh ke jurang atau bertabrakan tak dapat menyelamatkan dirinya dan bisa saja seluruh penumpangnya tewas. Oleh karenanya harus pula ada penggantinya sebagai sopir penerus/penggantinya agar dapat menyelamatkan seluruh penumpang dari ancaman kehancuran karena kecelakaan.Jelas yang berhak mengangkat sopir pengganti secara resmi adalah si pemilik bis, pangkatnya juga sopir kan? namanya bukan tukang ojek atau tukang becak, lho!. Bisnya kan tidak harus ganti.Artinya sopir pengganti/penerus hanya bertugas meneruskan misi sopir asli untuk sampai ke tujuan dan tidak harus dengan bis yang baru.
    Demikian pula di dalam alam rohani, sama saja pemimpin rohani adalah hak Allah swt semata untuk menunjuknya, karena agama yang benar adalah Tuhan sendirilah yang menciptakan dan bukan buatan manusia. MARI SAMA-SAMA DIRENUNGKAN dengan sabar tak emosional, dan memohon petunjuk ALLAH swt!!! Amin ya robbal ‘alamin

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: