Sepuluh Kriteria Sesat MUI


Dikutip dari Headline Tabloid DARSUS edisi Oktober 2007

Nasional

Ahmadiyah Tidak

Termasuk Aliran Sesat

Tanggapan Atas Sepuluh Kriteria Aliran Sesat dari MUI


Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 4-6 November 2007 lalu di Hotel Sari Pan Pacifik, Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat.

Dalam dialog yang diprakarsai Balitbang Departemen Agama November 2007, pihak Ahmadiyah telah mengemukakan tanggapan atas kesepuluh kriteria MUI tersebut. Pada kesempatan itu Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengemukakan satu persatu tanggapan atas kesepuluh kriteria tersebut dan membuktikan bahwa Ahmadiyah tidak tergolong aliran sesat sesuai dengan sepuluh kriteria yang ditetapkan MUI tersebut. Dibawah ini tanggapan yang dikemukakan pihak Ahmadiyah.

1. Mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah berpegang teguh kepada rukun Iman dan rukun Islam sebagaimana pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, “Sesungguhnya kami orang-orang Islam yang beriman kepada Allah yang Tunggal, yang segala sesuatu bergantung pada-Nya, yang MahaEsa, dengan pengakuan ‘tidak ada Tuhan kecuali Dia’; kami beriman kepada kitabullah Al Qur’an dan Rasul-Nya, paduka kita Muhammad Khataamun Nabiyyin; kami beriman kepada Malaikat, Hari Kebangkitan, Surga dan Neraka . . . dan kami menerima setiap yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kami mengerti maupun kami tidak mengerti rahasianya serta kami tidak mengerti hakikatnya; dan berkat karunia Allah, aku termasuk orang-orang mukmin yang meng-esakan Tuhan dan berserah diri.” (Nurul Haq, Juz I, halaman 5)

2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan As Sunnah),

Tanggapan: Ahmadiyah tidak meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Pendiri Ahmadiyah menyatakan dengan tegas: “Tidak masuk kedalam Jemaat kami kecuali orang yang telah masuk ke dalam Islam dan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah-sunnah pemimpin kita sebaik-baik manusia (Muhammad Rasulullah SAW) dan beriman kepada Allah, Rasul-Nya yang MahaMulia yang Maha Pengasih dan beriman kepada khasyr dan nasyr, surga dan neraka jahiim; dan berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam dan akan mati diatas agama ini, agama fitrah, dengan berpegang teguh kepada kitab Allah yang Maha Tahu; dan mengamalkan setiap yang telah ditetapkan dari Sunnah, Al Qur’an dan Ijma’ para sahabat yang mulia; siapa yang mengabaikan tiga perkara ini sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam api neraka. (Lihat buku Ruhani Khazain jilid XIX, hal.315 dan Mawahibur-Rahman, hal 96).

3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an itu wahyu Allah yang mengandung syariat yang lengkap dan terakhir, karena itu tidak akan turun lagi wahyu sesudah Nabi Muhammad SAW yang mengandung syariat yang mengganti atau merubah syariat Al Qur’an.

Keyakinan Ahmadiyah tentang wahyu didasarkan pada surah Asy Syura, 42:52 yang artinya, “Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Luhur, Maha Bijaksana.”

Kalimat ‘yukallimahullahu’ dalam ayat ini berbentuk fi’il mudhori yang menunjukkan waktu sekarang, dan akan datang. Ini menunjukkan bahwa adanya wahyu adalah kekal sebagaimana kekalnya Dzat Allah Taala sebab ia terbit dari sifat mutakallim Allah Yang Maha Kekal.

Sedangkan wahyu yang diturunkan hanya untuk menjelaskan dan menjunjung tinggi Al Qur’an akan tetap ada dan tetap diperlukan sampai kiamat dan wahyu-wahyu semacam itu pernah diterima para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Sesudah Rasulullah Muhammad SAW wafat, para sahabat yang akan memandikan jenazah nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang bagaimana hendaknya jenazah Rasulullah Muhammad SAW , “Mandikanlah Nabi SAW sedang padanya ada pakaiannya.” (Hadits Al Baihaqi dari Siti Aisyah r.a. dalam Tarikhul Kamil jil. 2 halaman 16 dan Misykatus Syarif, jil. 3 babul Kiromat hal. 196-197). Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Muhyiddin Ibnu Arabi dan lain-lain, juga pernah menerima wahyu jenis ini. (tentang hal ini dapat dibaca pada buku Muzhatul-Majalis, jil. 1 hal. 107, babul-khilmi washfchi; Al Mathalibul Jamaliyah, Cetakan Mesir tahun 1344 halaman 23; dan Al futuhatul Makiyyah, jilid III, halaman 35).

Pendapat yang mengatakan bahwa sama sekali tidak ada wahyu dalam bentuk apapun setelah kewafatan Rasulullah Muhammad SAW sama saja dengan mengatakan bahwa sifat mutakallim Allah Taala telah terhenti, dengan kata lain Allah telah mengalami pengurangan dalam sifat-sifat-Nya. Bila salah satu sifatnya dinyatakan telah tidak berlaku lagi maka tidak tertutup kemungkinan bagi sifat-sifat-Nya yang lain akan berkurang dan ini akhirnya merusak keimanan seseorang kepada Allah.

4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an yang kita warisi sekarang ini asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dulu, dan Ahmadiyah menerimanya secara utuh. Pendiri Ahmadiyah menyatakan: “Siapa yang menambah atau menguranginya maka mereka itu tergolong setan.” (lihat, Mawahibur Rahman, halaman 285) ”…. Kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu dari Al Qur’an dan diatasnya kami hidup dan mati. Siapa yang menambah pada syariat Al Qur’an ini seberat dzarroh (atom) atau menguranginya atau menolak akidah ijma’iyah. Maka baginya kutukan Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atham, halaman 144) ; “…Al Qur’an itu sesudah Rasulullah SAW (wafat) terpelihara dari perubahan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al Qur’an itu tidak akan dimanshukhkan dan tidak akan bertambah dan berkurang sesudah Rasulullah (wafat).” (lihat, Ainah Kamalati Islam, halaman 21).

5. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,

Tanggapan: Ahmadiyah menafsirkan Al Qur’an berdasarkan 7 kaidah penafsiran yang satu dengan lainnya tidak boleh saling bertentangan, yaitu:

(A) Dengan Al Qur’an sendiri. Tafsir suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain,

(B) Dengan tafsir Rasulullah SAW. Jika satu arti dari ayat Al Quran terbukti telah diartikan oleh Rasulullah SAW maka kewajiban seluruh orang Islam untuk menerima itu tanpa keraguan dan keseganan sedikitpun,

(C) Dengan tafsir para Sahabat Rasulullah SAW. Sebab mereka adalah pewaris utama dan pertama dari nur ilmu-ilmu nubuwat Rasulullah SAW,

(D) Dengan merenungkan isi Al Quran dengan jiwa yang disucikan,

(E) Dengan Bahasa Arab,

(F). Dengan hukum Alam, sebab tidak ada pertentangan antara tatanan rohani dengan tatanan alam semesta,

(G) Dengan tafsir yang diperoleh melalui bimbingan langsung dari Allah seperti wahyu, mimpi, dan kasyaf. (disarikan dari buku ‘Barakatud do’a’, karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad).

6. Mengingkari kedudukan hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menegaskan, “Sarana petunjuk ketiga adalah Hadits, sebab banyak sekali soal-soal yang berhubungan dengan sejarah Islam, budi pekerti, fiqh dengan jelas dibentangkan di dalamnya. Faedah besar daripada Hadits selain itu ialah, Hadits merupakan khadim (abdi) Al Qur’an.” (Bahtera Nuh, bahasa Indonesia, edisi kelima, halaman 87-88)

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah menghina, melecehkan atau merendahkan Nabi dan Rasul. Ahmadiyah menghormati dan mengimani semua Nabi dan Rasul Allah sebagaimana Al Qur’an mengajarkan kepada kaum Muslim, “Kami tidak membeda-bedakan di antara seorangpun dari Rasul-Rasul-Nya yang satu terhadap yang lain.” (Al Baqarah: 286).

8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang membawa syari’at. Nabi Muhammad SAW sendiri memberitakan bahwa di akhir zaman akan turun Isa Ibnu Maryam yang kedudukannya adalah Nabi, (Hadits Bukhari, Kitabul Anbiya’, bab Nuzul Isa Ibnu Maryam), namun tidak membawa syari’at baru melainkan menegakkan syari’at Islam.

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, bahkan Ahmadiyah berupaya melaksanakan semua sunnah Rasulullah SAW dan Ijma’ sahabatnya Yang Mulia. Pendiri Ahmadiyah menyatakan : “Kami berlepas diri dari semua kenyataan yang tidak disaksikan syariat Islam.” (Tuhfah Baghdad, halaman 35)

10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengafirkan seorangpun yang mengaku Islam atau mengucapkan dua Kalimah Syahadah.

Perlu diingat dan dipedomani bahwa Nabi Besar Muhammad SAW telah membuat definisi seorang dikatakan Muslim yang didasarkan atas amal seseorang dan bukan atas niat atau pikiran yang ada dalam benaknya. Misalnya, “Siapa saja yang shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kepada kiblat kami dan memakan sesembelihan kurban kami, maka itu petunjuk bagimu (bahwa ia adalah) seorang muslim. Ia menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kamu merusak tentang tanggungan Allah itu.” (Bukhari dan An Nasaai dan Kanzul Umal juz 1/398).

Dengan demikian Ahmadiyah sama sekali tidak termasuk kedalam aliran sesat. (Jakarta, 8 November 2007, P.B. Jemaat Ahmadiyah Indonesia) []

 

 

    • Karunia1two
    • April 24th, 2008

    Salam ikhwan,mohon penjelasannya pada poin 3.Bukankah wahyu hanya disampaikan Allah kepada Rasulnya hanya melalui Malaikat Jibril?

    • sufimuda
    • Agustus 15th, 2008

    Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i
    fatwa ini menarik, seharusnya MUI membuat lebel sesat juga untuk kaum wahabi yang suka menuduh orang lain kafir, Kenapa wahabi tidak dituduh sesat? karena MUI=WAHABI,

    • sedemir
    • April 22nd, 2009

    Tidak semua wahyu melalui Jibril. Ada wahyu yang disampaikan melalui jibril. Ada yang langsung. Ada dalam bentuk Kasyaf (vision). Ada yang dalam bentuk mimpi. Dalam hadits mimpi yang benar dimasukkan sebagai bagian dari nubuah (wahyu).

    • sedemir
    • April 22nd, 2009

    Tambahan. Pernyataan bahwa tidak ada wahyu setelah rasulullah saw adalah lemah. Di dalam hadits Muslim disebutkan bahwa Nabiullah Isa as yang datang untuk kedua kali mendapatkan Wahyu dari ALLAH. Dalam Hadits tersebut jelas disebutkan istilah WAHYU untuk Isa Almasih yang kedua itu.

  1. Alhamdulillah…., buat Anda-anda yang menginginkan Dana Hibah dan Modal Usaha untuk bisnis sampingan di rumah, sekarang bisa Anda dapatkan dengan membeli Panduan Dana Hibah dan Modal usaha di website http://danahibah21.co.cc. Semoga Informasi ini bermanfaat.

    • Abdullah
    • Juni 16th, 2009

    Menurut saya jika ada banyak orang yang meyakini bahwa Alloh masih menurunkan wahyu setelah wafatnya Rasulullah, maka pasti akan makin banyak bermunculan orang2 yang mengaku-ngaku mendapatkan wahyu dari Alloh padahal itu hanyalah untuk mendapatkan apa yang diinginkan hawa nafsu mereka (harta,kehormatan di mata manusia dll). Hal ini tentu akan membuat umat islam terpecah-belah.
    Alloh hanya memberikan wahyu kepada Rosul-Nya, dan Rosul terakhir adalah Muhammad bin Abdullah sholallohu alaihi wasalam.
    QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”

    Wallohu musta’an.
    ——————
    Admin: Bukankah Allah bersifat Mutakalim (Maha Berbicara);
    (1) bukankah sifat Allah Ta’ala itu abadi?;
    (2) Jikalah saat ini tidak ada wahyu yang diturunkan, maka apakah –Na’udzubillahi min dzalik– Allah Ta’ala itu menjadi bisu?
    (3) dan apalah kerja Malaikat Jibril?
    (4) apakah Jibril a.s. kini –Na’udzubillahi min dzalik– di-PHK?
    (5) Bagaimana umat Islam yang dianggap paling mulia itu tidak bisa bercakap-cakap dan mendapat petunjuk dari-Nya secara langsung seperti nabi-nabi terdahulu?

    Mohon direnungkan.
    Wallahu bissowab

    • sedemir
    • September 4th, 2009

    Silahkan di chek lagi di Hadis Muslim, Jelas kok disebutkan bahwa Allah swt menurunkan wahyunya kepada Nabi Isa as yang datang setelah Nabi Muhamad saw. Jadi kalau bilang tidak ada wahyu setelah Nabi Muhamad saw, Wahyu apalagi yang dinyatakan dalam Hadis muslim tersebut yang jelas diturunkan Allah kepada Nabi Isa as yang akan datang setelah Nabi Muhamad saw? Kesimpulannya sesuai dengan Pendapat Imam Suyuti Mujadid abad ke 9, bahwa hadis-hadis yangmenyatakan tidak ada wahyu setelah Muhamad saw adalah batil,dan palsu. Tidak berdasar.

    • Sedemir
    • September 19th, 2009

    Saya bisa mengerti akan kekhawatiran Akhi Abdullah. Tetapi Rasulullah sendiri yang telah menubuatkan bahwa Isa as akan datang lagi setelah Rasulullah saw.Haditsnya kuat Mutawatir. Dan dalam Hadits tersebut dinyatakan bahwa Isa as yang akan datang itu akan diberikan Wahyu oleh Allah swt(HR MUSLIM).Jad Rasulullah sendiri yang mengabarkan demikian.

    Kekhawatiran itu sebenarnya tidak perlu terjadi karena pada perjalanannya Kebenaran wahyu yang aseli dan palsu akan sangat kentara bobot,muatan,penyempurnaan dan pengaruhnya bagi umat dan jamaah yang benar. Lagian sebenarnya jika hanya melihat kelangsungan jamaah Nabi Palsu kita mengenal hanya sedikit saja dari kalangan umat islam yang mengaku Nabi dan jamaahnya masih tersisa. Sebagaimana emas tentu dari yang palsu ada yang aseli. Yang saya tandai jamaah dari yang mengaku nabi dari umat islam yang masih tersisa mendunia malah tidak ada. Lia Eden mengaku agama baru, skalanya pun nasional. Syiahpun tidak ada pengakuan kenabian bagi Imam Mahdi Imam Muhamad Imamke 12nya. Bahai mendakwakan agama baru. Musailamah tidak ada satupun jamaahnya. Hanya Ahmadiyah saja yang terus berkembang membawa panji Islam dengan pengikut mendunia ratusan juta di 190 negara.Saya kira fakta ini sudah lebih dari cukup untuk pertanda awal mempertimbangkan ahmadiyah sebagai Jamaah yang layak diperhitungkan.

  2. wis inyonk setuju wae karo sampeyan, lha wong GUSTI ALLAH iku Gusti ingkang murbeng dumadi, ya to. wong kui mati (ra iso ngomong), Gusti iku urip sak lawase (iso ngomong terus), lha nek ra iso ngomong opo yo bisu (mati)? (nuwun sewu, rodo ndeso)

    • Antares
    • November 6th, 2009

    Antum harusnya lebih banyak mendengar banyak suara dari saudara saudara muslim. antum baca lagi sejarah pendiri antum, ana cuma bisa mendoakan semoga Allah SWT memberikan hidayahnya.
    ———
    Admin: Terimakasih atas sarannya, Namun saya akan lebih mendengar kebenaran Alquran dan hadits Rasulullah saw yang tidak akan terpengaruh oleh Zaman. Lain dengan manusia. Mereka mudah terpengaruh akan ucapan-ucapan manusia yang lain. bahkan Jika seorang manusia tidak dilandasi ilmu agama yang mantap, maka ia mudah terpengaruh oleh pengaruh yang ‘anarkis’ sekalipun. Kami adalah pengikut setia Alquran dan Sunnah-sunnah yang mulia Rasulullah Al-Mushtofa saw

    • hamba Allah
    • Januari 22nd, 2010

    Saya bukan orang ahmadiyah, tapi membaca tulisan diatas hati saya miris sendiri. Hebat benar arogansi yang ditunjukkan kumpulan ulama indonesia ini, dengan mengatasnamakan Allah mereka membuat kriteria sesat terhadap manusia lainnya.
    Di poin ke-10 disebutkan juga “Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i” adalah salah satu kriteria sesat, lantas apakah MUI sendiri justru bukannya biang kesesatan? Karena dengan mengatakan sesat terhadap kelompok atau ajaran tertentu, berarti mereka sendiri yang sudah mengkafirkan sesama muslim?
    Saya tidak tahu alasan ahmadiyah secara syar’i, tetapi melihat perkembangan ahmadiyah tidak mungkin mereka tidak memiliki dalil-dalil yang bisa dijadikan hujjah atas pembenaran mereka. Lalu, siapa yang tahu kebenaran hakiki? Hanya Allah kelak yang tahu dan layak memutuskan siapa yang sesat dan siapa yang benar. Jadi sebaiknya, marilah kita saling menghormati keyakinan orang lain, selama mereka tidak bersifat anarkis dan melakukan tindak pidana, biarkan sajalah. Alih-alih berniat membela Islam dari orang-orang sesat, justru orang-orang yang berada di balik hujjah MUI ini lah yang bersifat anarkis dan melakukan tindakan pidana dengan merusak, mengintimidasi, menteror, melakukan penyerangan, menyerbu, menindas hak-hak asasi orang lain, dan segudan pelanggaran lainnya. Na’udzubillahimindzalik…

  3. Saya bukan orang ahmadiyah, tapi membaca tulisan diatas hati saya miris sendiri. Hebat benar arogansi yang ditunjukkan kumpulan ulama indonesia ini, dengan mengatasnamakan Allah mereka membuat kriteria sesat terhadap manusia lainnya.Di poin ke-10 disebutkan juga “Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i” adalah salah satu kriteria sesat, lantas apakah MUI sendiri justru bukannya biang kesesatan? Karena dengan mengatakan sesat terhadap kelompok atau ajaran tertentu, berarti mereka sendiri yang sudah mengkafirkan sesama muslim?Saya tidak tahu alasan ahmadiyah secara syar’i, tetapi melihat perkembangan ahmadiyah tidak mungkin mereka tidak memiliki dalil-dalil yang bisa dijadikan hujjah atas pembenaran mereka. Lalu, siapa yang tahu kebenaran hakiki? Hanya Allah kelak yang tahu dan layak memutuskan siapa yang sesat dan siapa yang benar. Jadi sebaiknya, marilah kita saling menghormati keyakinan orang lain, selama mereka tidak bersifat anarkis dan melakukan tindak pidana, biarkan sajalah. Alih-alih berniat membela Islam dari orang-orang sesat, justru orang-orang yang berada di balik hujjah MUI ini lah yang bersifat anarkis dan melakukan tindakan pidana dengan merusak, mengintimidasi, menteror, melakukan penyerangan, menyerbu, menindas hak-hak asasi orang lain, dan segudan pelanggaran lainnya. Na’udzubillahimindzalik…
    +1

    • Rahdi Sumitro
    • Oktober 14th, 2010

    Wahyu senantiasa diberikan oleh Allah kepada makhluk-Nya, sampai akhir zaman. Ada tiga macam wahyu : Wahyu Nubuwah, Wahyu Karomah, dan Wahyu Hidayah.
    Wahyu hidayah diberikan kepada para nabi dan rosul untuk menjadi penyampai ajaran Allah. dalam hal ini, tidak ada lagi wahyu Nubuwah sesudah Nabi Muhammad, karena beliau adalah Nabi dan rosul terakhir.
    Wahyu Karomah diberikan kepada para Wali dan pemimpin ummat serta ulama, untuk mampu menterjemahkan Wahyu nubuwah sesuai dengan dinamika zaman yang sedang berlangsung. Bukankah Allah akan senantiasa mengirim seorang pembaharu setiap satu abad ?
    Wahyu hidayah diberikan kepada semua manusia yang berkenan mendekatkan diri kepada-Nya, sesuai ucapan sholat sehari-hari : ihdina shirotol mustaqiim. Adalah petunjuk Allah kepada setiap individu untuk dapat memahami dan menjabarkan wahyu nubuwah dan wahyu karomah yang disampaikan kepada individu yang bersangkutan.

    • sedemir
    • Oktober 14th, 2010

    Kalau bagi saya sih jelas semakin sewotnya MUI dan FPI hingga sudah mulai melakukan tindakan intimidasi dan kekerasan paksaan menunjukkan mereka sudah mulai goyah dengan kemajuan ahmadiyah di seluruh dunia. Kata gus dur yang sewot dan marah-marah islamnya krisis…..hehehe

  4. Saya setuju adanya fatwa tidak boleh mengkafirkan orang lain tanpa alasan syar’i. tapi bagi MUI yang banyak ulama dari kelompok yang ahli-ahli bid’ah dalam hal ibadah makdoh, malah menuduh beberapa kelompok lain sesat. bahkan ulamanya dalam berbagai kesempatan ceramah di masjid-masjid pada menyesatkan orang lain . macam mana MUI ini? coba MUI, beranikah mengeluarkan fatwa mari kita berantas bid’ah-bid’ah yang sesat. Beranikah, pasti tidak berani, karena pasti akan menjadi bumerang.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.